Rabu, 22 Maret 2017

Pelaksanaan Ujian PPU Berbasis Komputer di SMP Negeri 2 Dlingo

SMP NEGERI 2 DLINGO
Ujian PPU Kelas 9 SMP N 2 Dlingo (Dok: TU)

Pelaksanaan ujian PPU serentak dilaksanakan oleh Dikpora Kabupaten Bantul mulai Rabu, 22 Maret 2017. PPU kali ini menggunakan sistem CBT atau Ujian Berbasis Komputer. SMP Negeri 2 Dlingo sebagai salah satu sekolah yang telah mengikuti ujian ini secara mandiri di tengah masih banyaknya sekolah yang masih bergabung dengan sekolah lain. Ujian dilaksanakan secara bertahap sebanyak 3 sesi.

Saat berita ini diturunkan tengah berlangsung ujian pada sesi ke 2 dengan mata pelajaran yang diujikan Bahas Indonesia. 

Rabu, 08 Maret 2017

Bupati Bantul Mengukuhkan Kepala Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menegah Pertama (SMP) Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul

SMP NEGERI 2 DLINGO

Foto Berita 2860Bupati Bantul Drs. H. Suharsono mengambil Sumpah Jabatan Kepala SD dan SMP di Lingkungan Pemerintah Kabupaten BantulBertempat di Pendopo Parasamya Bantul, Rabu (08/03) siang ini sebanyak 113 Kepala Sekolah dikukuhkan. Kepala Sekolah tersebut untuk mengisi sejumlah jabatan untuk tingkat SD dan SMP di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul.
Pengukuhan tersebut di hadiri oleh Bupati Bantul, Sekretaris Daerah, Asisten Sekda, Staf Ahli Sejumlah Kepala OPD di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bantul dan segenap tamu undangan. Sebelum prosesi pengukuhan seperti biasa untuk memupuk jiwa Nasionalisme di awali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang diikuti oleh semua yang hadir menambah khidmat acara tersebut.
Bupati Bantul Drs. H. Suharsono secara langsung mengukuhkan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah tersebut dihadapan para undangan yang hadir di Pendopo. Usai mengukuhkan Bupati Bantul Suharsono, berpesan agar guru tetap menjunjung tinggi profesionalitas, bekerja keras menciptakan suasana tempat didik yang kondusif, tetap belajar di jaman perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikian pesatnya.
Dalam arahannya Bupati Bantul Suharsono mengatakan, tantangan Kepala Sekolah atau guru dewasa ini demikian beratnya, di satu sisi serbuan budaya asing yang negatif menerpa anak didik kita dan di sisi yang lain guru dituntut untuk selalu mengimbangi pengaruh negatif tersebut dengan memberikan pelajaran budi pekerti, peran orang tua siswa pun dituntut untuk berperan serta aktif membimbing anak-anaknya di rumah.
Kepala Sekolah merupakan motor penggerak utama, keberhasilan dan kesuksesan suatu sekolah dalam mendidik tergantung pada kemampuan manajerial, kompetensi, kepribadian, jiwa sosial dan enterpreneurship, kata Bupati Bantul.
Di sisi yang lain Bupati Suharsono, mengakatakan guru di Kabupaten Bantul sudah menjalankan perannya dengan baik, terbukti dengan banyaknya prestasi yang diraih,tambahnya. Banyak siswa di Kabupaten Bantul yang menjuarai berbagai kejuaraan di tingkat provinsi atau nasional, dan prestasi yang sudah baik ini perlu ditingkatkan,pungkas Bupati Bantul.
Mengakhiri sambutannya Bupati Bantul Suharsono berharap, fenomena nglithih yang kini terjadi di mana-mana dan pelakunya diantaranya masih berstatus pelajar, menjadi tanggung jawab bersama, baik dari pihak orang tua siswa, sekolahan maupun masyarakat, kata Bupati Bantul. (sit)

Senin, 06 Februari 2017

Rapat Pembentukan Koperasi "Sejahtera" SMP Negeri 2 Dlingo

SMP NEGERI 2 DLINGO
SpedaDlingo (6/2/2017) Musyawarah Guru dan Karyawan SMP Negeri 2 Dlingo pada tanggal 6 Februari 2017 memutuskan dan mengesahkan berdirinya Koperasi Guru dan Karyawan "Sejahtera". Setelah membentuk susunan pengurus, selanjutnya membuat AD/ART dan peraturan pendukung lainnya.

Pada sambutannya Kepala Sekolah, bapak Mugiyono, M.Pd. menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas berdirinya Koperasi "Sejahtera". Semoga dengan berdirinya koperasi ini mampu menyejahterakan anggotanya. Iuran pokok sebesar Rp 1.500.000,00 untuk PNS dan Rp 500.000,00 untuk GTTdan PTT yang dapat di cicil dari gaji. (es)

Kamis, 10 November 2016

UPACARA HARI PAHLAWAN TAHUN 2016

SMP NEGERI 2 DLINGO

Kamis, 10 November 2016, Seluruh warga sekolah di SMP Negeri 2 Dlingo melaksanakan upacara bendera Peringata Hari Pahlawan. Pada kesempatan ini Kepala Sekolah, Mugiyono, M.Pd. menyampaikan pentingnya peranan pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan melalui usaha belajar dengan sungguh-sungguh. Selain itu juga disampaikan latar belakang 10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan. 

Hari Pahlawan 10 November 1945 bermula dan menjadi kunci sejarah Nasional berlangsung di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran terjadi besar terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan 17 Agustus 1945 dan merupakan peperangan pertama setelah Republik ini berdiri secara berdaulat.
Perang di kota Surabaya 10 November 1945 adalah pertempuran terbesar “Hidup atau Mati” dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia dan menjadi simbol perjuangan pahlawan Indonesia terhadap aksi kolonialisme.
Pemerintah Indonesia pada tanggal 31 Agustus 1945 mengeluarkan maklumat yang menetapkan mulai 1 September 1945 bendera Merah Putih harus dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia, aksi pengibaran bendera sang saka merah putih pun sampai keseluruh pelosok di kota Surabaya.
Aksi heroik pengibaran bendera di Surabaya terjadi saat pejuang beraksi melakukan perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, dan menggantinya dengan Merah Putih, peristiwa ini banyak diabadikan dalam buku-buku sejarah Nasional, kini hotel Yamato ini telah berganti nama menjadi Hotel Majapahit di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.
Saat itu Belanda yang masih bercokol di Surabaya di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada tanggal 18 September 1945, mengibarkan bendera Belanda tanpa meminta izin dari Pemerintah RI yang sudah berdaulat, bendera belanda ini dikibarkan pada tiang paling tinggi di Hotel Yamato.
Keesokan harinya para pemuda Surabaya yang menyaksikan bendera Belanda berkibar di Hotel Yamato menjadi marah karena Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, dan dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang digalakan di kota Surabaya.
Soedirman yang saat itu berperan sebagai perwakilan RI masuk untuk berunding dengan Mr. Ploegman meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk memenuhi tuntutan para pejuang arek-arek Surabaya dan menolak mengakui kedaulatan Indonesia.

Puncak dari perundingan yang tidak menemukan titik temu, Ploegman mengeluarkan pistol dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas setelah mengacungkan pistol dan satu dari pendamping Sudirman pun tewas dalam kericuhan tersebut.
Setelah mendengar letusan senjata, pemuda-pemdua yang menunggu diluar gedung lalu memasuki hotel Yamoto, sebagian dari mereka naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera bersama Koesno Wibowo untuk menurunkan bendera Belanda (merah, putih, biru), merobek bagian warna birunya, dan mengibarkannya sebagai bendera merah putih dipuncak tiang.
Setelah kejadian di Hotel Yamato, pada tanggal 27 Oktober 1945 mulai terjadi pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris dalam skala kecil. Bentrokan tersebut makin hari mulai memanas berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.
Puncak pertempuran Pejuang Indonesia melawan Ingris berawal ketika Jendral Mallaby terbunuh saat sedang mengendarai mobil truk yang melewati jembatan merah, disaat yang sama pula para pejuang Indonesia berada dijembatan tersebut, insiden pun tak terelakan. Jendral Mallaby tertembak dan meninggal dunia.
Pihak kerajaan Inggris tidak terima perbuatan yang dilakukan oleh pihak Indonesia atas meninggalnya Jendral Mallaby. Mereka kemudian memberi ultimatum 10 November 1945 kepada pejuang Indonesia untuk menyerahkan seluruh senjata dibawah pimpinan mereka yang baru, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh
Pada tanggal 10 November 1945, tentara Inggris mulai beraksi (Ricklef) dipelosok kota Surabaya. Perisitiwa pemaksaan terhadap rakyat Surabaya ini diselingi pertempuran yang merupakan perlawanan arek-arek Surabaya, korban jiwa jatuh tak kurang dari enam ribu jiwa, dan dalam waktu tiga hari tentara Inggris berhasil menguasai kota Surabaya. Peristiwa berdarah Hari Pahlawan 10 november 1945 tidak menyurutkan semangat pejuang Indonesia dalam menghadapai kaum penjajah, Pekikan Merdeka atau Mati menjadi slogan pejuang dalam membangun semangat yang sangat fenomenal, dengan semakin munculnya gerakan mempertahankan kemerdekan dipelosok tanah air, setiap jengkal wilayah Indonesia kemudian dapat direbut kembali. (Sumber :http://omediapc.com )